Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

Bukan Pencuri

Gambar
  Sudah dikatakan ia bukan pencuri! Ia mengendap-endap di depan warung kelontongmu, tidak melirik ke kanan apalagi ke kiri. Siang itu, matahari singgah di atas ubunmu, terik memeras keringat juga meninggalkan dahaga di kerongkonganmu. Bunga kertas di halaman warung berguguran, daunnya melambai-lambai bergurau dengan sepoi angin. Debu-debu jalanan menempel di pipinya yang lengket. Kau berdiri memerhatikan gerak tangannya, menggapai minuman gelas, membawanya kabur. Tidak dibayar! Nilai rupiahnya dua ribu saja, anggap saja kau sedang berbaik hati membiarkannya selamat dari ocehan beomu. pixabay.com Panas hari itu membuatmu malas memperkeruh suasana, lebih baik menunggu pembeli berjas-jas rapi. Ah , imajinasimu melambung terlampau tinggi, mana ada orang rapi berkenan singgah di warung kelontong milikmu? Minuman teh di gelas telah dingin bahkan gulanya bisa jadi bercampur dengan debu aspal, mendoan yang disajikan pun tidak menarik untuk pencuri itu __ ­­­­­­­­­­­­ m aaf agaknya sed...

Maut di Kali Loning

Gambar
    Sepertihalnya manusia, mereka juga membutuhkan rekreasi untuk mengurangi beban pikiran kehidupan. Mereka pun makhluk hidup pada umumnya. Pagi ini, ketika mentari pertamakali terbit dari ufuk Timur, menyiramkan sinar kuningnya ke lembaran daun-daun hijau, menjernihkan pandangan embun-embun yang membutir di pucuk-pucuk daun, mereka telah sampai di tepian jembatan Bendungan Kali Loning, sebuah bendungan air yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1977, menjadi tempat pertemuan dan perpisahan. Mereka menyeret ranting pohon kering, menceburkannya ke dalam air, berdiri di atas permukaan ranting, memandangi alam sekitar, arus yang air begitu tenang, percayalah tak akan ada kecelakaan yang hebat. Begitu tutur Tatak! Hewan hijau yang pekerjaannya adalah melompat.                 “Ke manakah kita akan pergi?” seru semut-semut histeris.            ...

Riana

Gambar
  Kota Luar sore itu menangis, hujan menggenangi permukaan aspal. Kopi-kopi di meja kafe mendingin tak kunjung diminum. Warna-warni payung menghiasi jalan trotoar. Jas-jas hujan berkeliaran melawan arus hujan. Remang cahaya membias pada butiran air, yang membuat senja tampak elegan. Sayangnya hujan tak lagi menyimpan kerinduan dalam bola mata bocah-bocah. Semua manusia meringkuk di bawah naungan atap, kecuali mereka yang sengaja memadati jalanan untuk pulang. Punggung-punggung berbalik. Nuansa yang manis di tepian jembatan kota menjadi hal yang paling dirindukan, saat sepasang pemuda saling sandar membicarakan kesemuan masa depan. pixabay.com Hari itu, hujan membawa kabar duka   bagi sebuah kota, meluluhlantahkan gedung dan bangunan-bangunan tua, menyapu bersih orang-orang yang ada di pusar jalan, meleburkan pasar dan pusat perbelanjaan. Gagang payung lepas dari genggaman tuannya. Cangkir-cangkir kopi pecah, seiring dengan ambruknya kafe yang menaungi. Waiters-waiters kalang...

Pertemuan dengan Takdir

Gambar
L ima tahun yang lalu kedua telingaku kulubangi menggunakan bor, ada anting sebesar lingkaran jari tengah yang kugantungkan. Ia membuatku merasa lebih percaya diri, dan meyakinkanku bahwa diriku anak yang hidup dengan kebebasan. Akulah pencipta kebebasan hidupku, tak ada yang   mengatur, dan tak ada yang menjadi batasan. Sementara orang-orang selalu berkata bahwa, ‘Alur kehidupan sudah ada pengaturnya, tangan manusia tak akan bisa mengubahnya begitu saja jika Ia tak berkehendak,’ dan aku baru membenarkannya setelah dua puluh enam tahun hidup dalam kebebasan semu. pixabay.com               Anganku sedang terbang ke langit delapan. Aku melambung pada puncak kebebasan dunia ciptaan tanganku sendiri. Asap berembus, hidung menghirup singkatnya aroma kebahagiaan. Meskipun singkat, namun aku tetap merasakan perjalanan hidup panjang, tak berliku, tak terjal, juga tak bergelombang. Hal itu membuatku tertawa renyah, walau...