Postingan

Menampilkan postingan dengan label Larung Limaluka

Mantra

Gambar
:untuk Milarosa Randu Alas Malam-malam sika. Malam-malam siku. Di tubuh masenja tadi adalah temaram, di tabah masenja adalah sebagian kau, sebagianku, rindu bertalu rindu, lindu menala kamu, kekasih. Pixabay.com Malam-malam sika. Malam-malam siku. Di bibir masenja rawan perawan, adalah kau kubiar tali-temali, siluetmu - dan sialannya, termasuk juga mendul-mendul buah dadamu - cemanthel di getar candhik ala itu, mirip gunungan di lakon wewayang semasa kecil, kekasih. Malam-malam sika. Malam-malam siku. Di sela selonya arsiran kunang-kunang, mak njegagik, kupetik senyummu dari tiada! 2019 Larung Limaluka

“Sandyakala di Pelupuk Matamu”

Gambar
: untuk Lantip Mestika Pancarani             Di suatu petang di dada kala, di hari baik, bulan baik dan tahun yang baik pula, Tuhan sedang ngopi dan berlatih membaca puisi – dari bibirNya yang teramat molek dan mirip ciuman-ciuman selamat tidur, aksara mengalir -. Membaca puisi itu – yang, kukira, mungkin puisi Sylvia Plath atau Neil Hilborn, lamat-lamat aku mengingat ada nyeri yang berdenyut-denyut dan meleleh dari halamannya -, Ia mengernyitkan alisNya, diletakkanNya kopi dan tubuh puisi itu dengan perlahan, dipetikNya sehelai senja dari tiada, bibirNya merekah setelah mengelupasi nyeri dari kata-kata, berbisik Ia, “kelak manusia akan mampu juga memetik senja dari sesuatu; pipi, tengkuk, bibir, celana, dan kembang plastik yang dipaksa mekar di luar garba musim-musim yang bergegas meniti detik,” senja menguar-nguar aroma tubuhnya, senja berdesir-desir, “manusia butuh jendela, demi dan hanya demi keinginan memetik yang sena...