Postingan

Menampilkan postingan dengan label A. Fahmi Muslih

Epilog

Gambar
daun-daun senja berguguran dari tempat, di mana tubuhnya bersemayam memenuhi taman pemakaman. pada usia genap satu nyawa, orang-orang sibuk menandai perayaan pelepasan menuju jalan pulang. di atas pasir basah, di sisi bebatuan kutuliskan kalimat penutup yang paling rindang dan teduh untuk dinikmati bersama seduhan secangkir kopi agar kepergian tak selalu menjadi akhir dari setiap jejak yang melayang. A. Fahmi Muslih Yogyakarta, 26 Agustus 2017

IKHTISAR

Gambar
sepuluh menit usai pukul dua siang persis seperti saat kita membasuh terik waktu dengan keringat di sekujur tubuh: saat ini, aku masih bersama mendung langit pasi menggambar lautan di sisinya mengisahkan gerimis dan hujan yang belum sempat pergi. kita adalah orang yang sama sama pernah basah oleh kesunyian dan kenangan pada sepasang waktu yang kita simpan dalam hulu masing-masing. pixabay.com aku memutuskan sembunyi di dasar laut sedangkan kau tinggal di permukaan sepi hingga lenyap menjadi nasib pertamaku dan nasib keduamu pada kerjap waktu. jawabanmu tidaklah takdir, bukanlah akhir akan segala yang hanyut bersama kapu-kapu waktu: pada akhirnya simpul wajah adalah ingatan yang aku tinggalkan menggenapi kerah baju diantara kedua pundakmu. A. Fahmi Muslih Yogyakarta, 2017

Fajar

Gambar
sepenggal puisi, terbalut plano tipis kemarau bersama serbuk hujan secangkir kopi. selagi panas kuku masih bersila pada lantang belantara di sekujur jari pixabay.com tetaplah menikmati teguk waktumu meski kering dan basah menjadi nasib nisbi atas pagi yang mulai menjalar memasuki hulu. A. Fahmi Muslih Yogyakarta, 24 Desember 2017

Tak Ada Pagi, Hari Ini.

Gambar
tak ada pagi, hari ini kotak pos masih saja kosong surat-surat lama telah selesai dibaca dan surat-surat baru belum tiba. tak ada pagi, hari ini di sisimu, malam masih betah tinggal dan enggan pulang usai matahari berkibar setengah tiang. Pixabay.com tak ada pagi, hari ini tempat orang-orang mulai berkisah. tak ada pagi, hari ini hujan semakin deras melebur ingatan sisa-sisa perjalanan. selagi hari belum benar-benar terang kenakan lalu tatalah nyala api dan jangan izinkan ia padam oleh air atau angin agar setiap jeda menjadi lintasan baru untuk kita berjalan–kembali, mencari esok hari. A. Fahmi Muslih Yogyakarta, 2017

Sebelum Menuju Meja Makan

Gambar
Tuhan, kami masih saja sibuk mencari arti tentang sesuap nasi yang seringkali kami tanamkan pada sebuah rongga yang sepi cahaya, tempat paling sunyi dan selalu basah akan kemauan. Sesekali bantulah kami membaca hidangan yang tersaji diatas meja, diantara kursi-kursi. Kami mengerti, bukanlah perkara rumit bagi-Mu untuk bisa membatalkan perjamuan ini. pixabay.com Sepanjang perjalanan siang dan malam, Kau semikan lapar dan dahaga hingga kami harus mengisi ruang-ruang kosong yang telah luang terlintas waktu. Lantas Kau jelmakan petak-petak sawah dan sumur-sumur megah untuk bisa kami gali lalu kami nikmati setidaknya dua atau tiga kali sehari. Bismillah, karena Kau telah memerintahkan kami untuk makan maka izinkanlah kami menyatakan kelezatan dan kenikmatan seluruh makanan yang ada di seluruh meja makan dengan keteduhan kepala dan hati yang lapang. Sungguh, tak pernah ada kehendak dan kasih sayang terbaik s...