Postingan

Menampilkan postingan dengan label Wisnu Maulana Yusuf

Surat Sepi Pertama

Gambar
Al, ingatkah masa kecil kita saat bermain di pesisir hutan? Permainan terakhir yang membuat jurang pertemuan antara kita? Ketika itu, kau mencari tempat persembunyian. Sedangkan kedua mataku tertutup sembari menyairkan hitungan sepuluh sampai satu. Kita bermain petak umpat, Al. pixabay.com Sebenarnya aku berbohong padamu, Al. Aku mengintip, kau berlari menuju hutan. Tetapi pada hitungan terakhir, kau lenyap dari mataku. Kau sembunyi di mana, Al? Sudah sepuluh tahun berlalu dan aku masih mencarimu. Wisnu Maulana Yusuf  Magnolia, 2018

Perihal Pencarian

Gambar
Malam ini, bintang-bintang berguguran. Begitu pun daun yang luruh kemudian menyelami angin-angin. Semua terasa sama, hampa. Aku terus berlari, tapi akhirnya tetap kehilangan jalan. Meski panggilan-panggilan menuntunku, masih saja tak berujung temu. Suara siapakah yang ada dalam kepala, sementara bisikan gerimis menyamarkan nada-nada bibirnya? pixabay.com Rembulan tersenyum layu, guratan wajahnya kian terjatuh. Sedangkan angin-angin masih menjadi samudera, menenggelamkan daun-daun yang mencari peraduannya. Wisnu Maulana Yusuf  Sleman, 2018

Pabrik Kenangan

Gambar
Matamu adalah pabrik yang menciptakan kenangan. Di sana, banyak pekerja dengan mata tertutup, debur suara bising, lembur hingga larut malam bersama peluh meleleh dari ujung dahi sampai kaki. Tidak ada yang mengenal mimpi dan terbangun, mereka hanya mengikuti setiap langkah pikiran dan perasaanmu sampai terlihat begitu kelelahan. Bahkan, sebelum aku menyelesaikan puisi ini, terjadi sebuah kesalahan dalam menciptakan kenangan—adalah perpisahan antara kita. pixabay.com Wisnu Maulana Yusuf Yogyakarta, 2018

Dongeng dari Negeri Lama

Gambar
Pada malam yang mengukir sepucuk ode, ada kisah Odysseus dan Penelope yang menggema sebagaimana aroma petrichor menyeruak dinding-dinding everlasting regret di China. Sederet dinding yang berkisah cinta Xuanzong dan Yuhuan. Sederet dinding yang ditulis dengan bahasa puisi-puisi purba kala itu. pixabay.com Dua puluh tahun Odysseus berkelana, selama itu pula Penelope menunggunya. Seratus delapan pria melamar, seratus delapan pria tertolak. Semua terjadi sebab kesetiaan Penelope pada kekasihnya. Namun, adakah kisah yang lebih romantis dari itu? Sebuah kisah Cleopatra dan pujaan hatinya menjawab pertanyaan di atas. Ya, Antony berperang, membela Mesir kuno. Darah mengucur di mana-mana. Namun, tiada kesakitan terkecuali kabar dusta tentang kematian kekasihnya, Cleopatra. Dan tahukah kenapa Antony bunuh diri? Bukan, bukan karena cinta. Ia mengabdikan dirinya pada Cleopatra, bukan kesendirian. Perang masih berlanjut, berhari-hari, berbulan-bulan. Hingga tersiar kabar kematian ...

Dan Jika

Gambar
Jika pertanyaan tentang melepasmu adalah sesuatu yang paling sulit. Maka pernyataan yang tepat adalah aku tidak akan memikirkannya. Karena, cukup kau tetap di sini dan menemaniku. Maka tidak akan ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Jika melepaskanmu adalah pekerjaan yang berat. Maka aku tidak akan memikirkannya. Karena, mempertahankanmu adalah sesuatu yang sangat ringan kulakukan. pixabay.com Dan jika mempertahankanmu adalah bencana, maka kuputuskan untuk tetap melindungimu dari gempa, tsunami dan badai yang bertiup kencang dari selatan. Berteduh dan berpeluh, hingga keringatku menetes bersama terik mentari yang hadir kembali. Meski, setelah itu entah kau atau aku, tak hidup lagi. Wisnu Maulana Yusuf Yogyakarta, 2018

Mulai Menyusun

Gambar
aku mulai menyusun: gedung-gedung di matamu tanpa pintu tanpa jendela lengkap dengan sofa-sofa dapur, kamar, ruang kerja dan aroma melati yang kuseduh setiap senja tidak lupa kupasang cermin di dinding retinamu agar setiap kucoba berkaca ada sorot mata yang sering kubaca aku mulai menyusun: lemari-lemari klasik yang terbuat dari pohon jati dengan pahatan batik merpati pixabay.com tapi tidak, atau barangkali mungkin jika lemari ini adalah rumah bagi baju yang memiliki aroma tubuh bekas pelukmu tapi itu hanya mungkin karena pasal peluk-memeluk terjadi ketika kau tak ada aku mulai menyusun: ruang makan yang terdiri atas dua kursi merah dengan meja sebagai pemisah dan sehelai roti yang kuletakkan tepat di samping air matamu mungkin karena kau tak ingin aku ada di sini seperti pagi-pagi sebelumnya tatapan dinginmu menggiring kabut air mataku atau mungkin seperti senja lalu air matamu menenggelamkan ...