Senyum Getir
Sirrus
bertebaran di langit. Mengajak keluarga kumulus
bercanda. Mentari mengedipkan mata. Bunga-bunga di halaman rumah warga
mengangguk tergoda. Pesona alam riang, seriang burung gereja yang berkicau di
kabel-kabel listrik jalanan. Kokok ayam lelap, mereka sudah berkemas mencari
makan di emperan selokan, atau tumpukan sampah. Kucing tetangga mengusir
cintanya tadi malam. Ia melenggok lunglai di gang-gang sempit, hendak loncat ke
dapur mencari kepala ikan. Lidi beristirahat. Tuannya sibuk mengantre di warung
bubur Bu Siti.
![]() |
pixabay.com |
Anak-anak
belia yang senyumnya masih tanpa dosa digendong. Matanya sayup-sayup, malas
menyibak dunia. Mereka juga belum terganggu dengan kupu-kupu dan kumbang yang
hinggap di bunga mawar. Malas mendengarkan bisingnya knalpot hilir-mudik. Tak
tertarik dengan langkah-langkah riang anak-anak pergi ke sekolah, bergerombol,
tertawa, saling menjawil, menarik tas, melempar kertas, lantas kejar-kejaran
hingga depan pintu gerbang. Renta yang tadi pagi terkantuk-kantuk di sandaran
tubuh musola, kini duduk manis di beranda rumah, mengemis sinar mentari agar
memberikan kehangatan tubuhnya. Mereka tersenyum, menyapa anak-anak sekolah,
tersenyum pula menyapaku yang melintas di hadapannya.
“Berangkat, Rara?”
Aku mengangguk membalas senyuman.
“Iya, Nek.”
Ingin sekali aku bertanya. Sedang apakah, Nek? Kutafsir jawabannya,
memikirkan kematian? Sayang, nyaliku
ciut, tetangganya sudah memelototiku.
Ibu-ibu setengah muda, menyiapkan
bekal ke bibit cabai di belakang kampung. Mereka hendak memasukkan tanah ke
dalam plastik setengah ons untuk pot benih cabai. 150 pot, senilai dengan upah
tiga ribu rupiah. Kawan, bayangkan berapa puluh peluh yang harus mereka
pertaruhkan demi saku anak-anaknya? Duduk berjam-jam di sisi gundukan tanah
gempur, berceloteh membicarakan aib tetangga sebelah. Jika telinga takdir
mendengar, murkalah ia. Hendak menelan bibir mereka, percuma, suami tak akan
mengizinkan. Jangan tertawakan, jika takdir cemburu di ujung saga.
Jika pagi, Fani sibuk menyirami
tanaman di teras rumahnya, menyapu halaman, juga mencabuti halma rumput yang
tumbuh liar, ibunya meracik bumbu di dapur, ayah pergi sebelum subuh tadi ke
Semarang, dinas di kantor negara. Ia cantik, senyumnya menggoda kumbang yang
sedang tertidur. Namun, ia tunduk, tak jelalatan seperti perempuan di emperan
malam. Siang, ia bergegas ke kampus tersayang, senja saat mega berhamburan di
langit yang diaduk oleh warna keemasan
alam abu, jingga, biru, dan ungu, ia akan merajuk di hadapanku,
menyumpah-serapahkan isi otaknya yang seharian penuh keluh. Aku bagaikan tong
sampah argumennya.
Gerobak bakso keluar menyusuri gang-gang
sempit perkampungan. Kursi pembeli nongkrog di atasnya, kaca baru saja dilap
mengkilap, senyum penjualnya menandingi kemanisan gula, bau parfum mencekik
hidung, mengaduk perut. Kaos oblong dengan celana pendeknya menampilkan kesan
yang pas bagi pedagang keliling. Tujuh bakso kerikil senilai dengan limaribu
rupiah. Jika senja, ia mangkal di depan aula kampung, menggoda para penunggu
anak mengaji dengan aroma kuahnya yang sukses membuat cacing pencernaan
tergiur. Maka anak yang keluar dari aula menyandang iqro; merajuk, menarik rok ibunda, meminta bakso tusuk limaribuan,
mereka tak berkutik, akhirnya tersenyum licik mendekati tukang bakso, pelan,
berbisik-bisik, tak rela sehelai daun kersen yang tumbuh di halaman aula
mendengarkan ucapannya. Ia juga angkuh dengan tatapan awan-gemawan di atas
kepalanya. Egois pada cibiran mulut lain tetangganya. Tetap, melanjutkan
proposal perdamaian untuk mendapatkan bakso demi wajah melas anaknya.
”Pak. Baksonya tiga ribu aja, ya?”
Kening penjual mengkerut, ia
menelan ludah. Lantar tersenyum. GETIR.
“Ya, tidak apa-apa.” Anaknya
nyengir senang.
“Bayarnya besok ya? Lagi tidak
bawa uang,”
Kiamat lima menit. Tukang bakso
tersenyum getir.
Tukang ojek mulai memanaskan
sepeda motornya di beranda rumah, mengelapnya kinclong. Mentari melecit, tubuh
mereka melesat. Imajinasikanlah mereka adalah seeorang pembalap. Setiba di
pangkalan, berdoa kepada pemberi ruh supaya ada satu mangsa yang mau singgah di
joknya. Matanya tajam, mengamati puluhan pejalan kaki yang melintas di
hadaapannya. Berkali-kali asap rokok dikepulkan, berusaha menelan getir
berjam-jam lamanya penumpang langka. Diasingkan oleh kredit sepeda motor yang
terpikir melenakan. Mereka tak berputus asa, tetap menawarkan jasa, dengan
senyum kecut yang dipaksakan lembut.
“Mari Mbak, ojeknya, antar sampai
depan rumah. Murah meriah.”
Seseorang hanya menatap sinis,
tanpa merespon. Atau, “mau ke mana Ibu? Ojeknya...”
“Lagi nunggu jemputan!”
Tukang ojek menelan air liur.
Tersenyum getir menatap orang tersebut.
Kembali asap rokok diembuskan.
Kucing yang sedang mencari makan di
selokan-selokan pasar mentertawakannya. ‘Meong!’
Tukang ojek senasib dengan
sopir-sopir angkutan. Penumpangnya punah! Para pelajar sekolah saja yang
memenuhi, itu pun bayarnya mendapatkan dispensasi. Sebagian orang kampung telah
lupa dengan keberadaannya. Dulu, mereka adalah kekasih yang selalu dinantikan
kesetiannya mengantarkan pulang. Beribu-ribu ucapan terimakasih didapatkan.
Namun, kini meski susah payah membeli parfume ruangan mobil, mengelap kaca
sampai tembus pandang, tersenyum manis setiap saat, berpakaian rapi menandingi
pekerja kantoran.
Tetap
saja, penumpangnya adalah makhluk abstrak, tak terlihat. Maka jangan heran,
jika banyak kepulan asap rokok setiap hari. Sejujurnya mereka adalah pahlawan
yang dilupakan zaman. Frustasi dilarikan pada hisapan nikotin yang melegakan
dada. Mereka mengenang keramaian penumpang yang berdesak-desakan. Mengecup
kening waktu mendengar keusilan penumpang jahil. Jika beruntung, ada wanita
ramah yang memberikan satu senyuman gratis. Jemari keriputnya menyetel tombol
tip di samping setirnya. Menelan air liur getir, usai mendengar lagu dangdut
bersenandung. ‘Masa lalu, biarlah masalalu...’
Pedagang sayur menggelar tikar.
Ibu-ibu yang tidak lari ke bibit cabai berebut sayur-mayur. Tawar-menawar
menjadi pusat perhatian para sopir angkutan umum dan ojek-ojek yang tak
mendapatkan penumpang. Mereka ngotot meminta potongan harga, tak diperhatikan
keringat penjual yang menetes. Bahkan malas peduli dengan perjuangan petani
yang merawatnya dari benih sampai tumbuh dewasa. Mereka menghapus ingatan
punggung etani membungkuk, memberi pupuk, yang baunya akan busuk, membuatmu
mabuk. Tidak disimpan memoar petani yang dipanggang di luasnya lahan, terkadang pun basah kuyup dengan triliunan
titik hujan. Pulang, membawa cangkul sebatangkara, mencuci kaki di irigasi
sawah yang keruh.
Malam,
di balik dinding bambu mereka berdoa, bukan agar jika panen mendapatkan
keuntungan yang banyak, melainkan. ‘Semoga tanamanku tidak dimakan hama.’ Esok
kembali datang, jejak dilayangkan, ke sawah juga ke ladang. Rerumputan dicabut
dengan tangannya sendiri, hama disemprot. Lelah. Tudung dilepas,
dikipas-kipaskan sembari bersandar pada tubuh pepohonan yang rindang. Baginya,
melihat tanamannya tumbuh subur dengan dedaunan hijau segar, cukup
menyenangkan. Begitupun juga dialami para petani yang menanam padi di sawahnya
yang luas. Bukan hanya mereka yang akan bahagia, burung-burung alam pun
tersenyum bangga. Namun, perdebatan menyakitkan terjadi di pasar pagi.
“Bu, kubisnya satu kilo berapa?”
Tawar seorang yang berpakaian rapi. Wajahnya dibubuhi bedak lima senti. Bibir
merah darah. Tas chanel tersampir manja di lengannya. Gelang melingkar di
lengannya. Empat cincin tersiman di jari-jarinya. Anting panjang nyangkut di
rambutnya. Kalung dengan intan besar menggelayut di lehernya.
“Empat ribu, Buk!”
“Halah, dua ribu saja ya, Buk!”
Burung yang bertengger di
kabel-kabel listrik hambur, tak tega melihat pedagang menelan air liur kecut.
Lantas tersenyum. GETIR.
“Tidak bisa, Ibu. Empat ribu,
pas!”
Ingin sekali ia menghardik, Anda
tidak susah payah menanmnya! Sayang, ia tidak berani melawan kegagahan tentara
berlian di tubuhnya.
“Kalau begitu tiga ribu saja, ya?”
“Empat ribu pas, Buk!”
“Tiga ribu setengah bagaimana?”
Terpaksa, dengan senyum getir,
pedagang sayur mengangguk. “Yasudah tidak papa, Bu!”
“Timbangkan setengah kilo ya, Bu!”
Lemas. Jantung nyaris kejang.
Namun pedagang yang baik hati selalu bersabar.
Saat waktu maghrib memanggil.
Semuanya serentak, dari anak sampai bapak, nenek, juga kakek,
berbondong-bondong meninginjakkan kaki ke musola kampung. Orang dewasa bersujud
khuysuk, belia lari ke sana-kemari. Anak-anak remaja duduk di beranda musola,
melempar pesan dengan teman sebangkunya.
Setiap hari aku merekam
kejadian-kejadian mereka. Samakah dengan di tempatmu? Cobalah ceritakan, Kawan.
Aku siap mendengarkan.
23 Desember 2016.
Komentar
Posting Komentar