Dikejar Polisi
Ia adalah sosok tinggi, berwajah menawan dengan perangai
yang tak rupawan. Suaranya lantang, membangunkan pagi yang masih mengantuk. Ia
pengganggu kelelawar yang hendak begadang di malam hari, ia sahabat para
pemeluk lingkaran jalanan. Seringkali menghabiskan waktunya di emperan toko
perempatan jalan di dekat kampung. Botol minuman terlarang dengan asap nikotin
menjadi temannya berdebat sepanjang malam. Ia, pemuda yang mempunyai cekungan
hitam di bawah kantung matanya, sering bergurau dengan mimpi-mimpi sepanjang
kehidupan. Ia pemeluk wajah-wajah layu yang mengobralkan suara sumbang di
pinggir-pinggir perkotaan. Ia, kau boleh memanggilnya, Dedi. Pemuda yang
memeluk usia dua puluh lima, sedang menenggak es tehnya di angkringan. Duduk
dengan mengangkat satu kakinya ke atas bangku panjang. Petikan gitar
bersenandung. Kawannya sedang menyumbangkan lagu berintonasi datar sebagai
penghibur siang. Langit memuntahkan teriknya yang dasyat, peluh-peluh penimbun
kertas bercucuran, pemiliknya memasungkan wajah tergesa-gesa, dengan aura
garang yang tidak bisa diganggu.
“Kau
punya mimpi menjadi penyanyi terkenal?”
“Tidak,
aku hanya mengandalkan suaraku untuk mengisi perut.”
“Sampai
kapan akan selalu seperti itu?” pertanyaan yang bermakna dengan protes, atau
mungkin sebuah tuntutan. Pengamen itu diam, menghentikan petikan senar.
Mengambil sate hati di meja angkringan, menyantapnya, kepalanya sedang
mengobrak-abrik kalimat tepat untuk menjawab pertanyaan Dedi.
Penjaga
angkringan sibuk menggoreng tempe, suara api dari kompor bergemuruh. Angin
menerbangkan debu-debu jalanan, membuat tubuh mereka menempel di kulit pipi,
atau justru hinggap di gorengan yang sudah disajikan di atas nampan. Tenda biru
di tepi trotoar itu tak kuasa menahan
panas jagad yang melambung drastis.
![]() |
pixabay.com |
“Kenapa
kau tidak gunakan otak cerdasmu itu untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar?
Kau tahu, Bang? Ide gila akan memengaruhi tindakanmu juga, dan tentu saja hal
tersebut akan menjadi takdirmu di masa depan, dari mana kita memulainya? Dari
sini,” Dedi menunjuk pelipisnya.
“Kau
lumat bangku sekolah, aku tidak, Ded!”
“Apa
yang penting dengan bangku sekolah? Aku hanya lulusan SMA, Bang.”
“Pola
pikirmu berbeda denganku, kau bisa merangkai mimpi-mimpi indah di masa depan,
sementara aku hanya mampu berpikir besok harus ada uang untuk makan,”
Dedi
terbatuk. “Aku hanya berpikir kapan aku akan mati, maka dari itu aku memanfaatkan
waktuku sebaik mungkin dengan berpikir.”
“Sudah,
Ded! Jangan kau tenggak esmu lagi, atau aku akan mendengarmu besok kembali koma
di rumah sakit.” Pengamen itu menepuk bahu Dedi. Kembali ia petik gitar tuanya.
Menyanyikan lagu yang sedang naik daun, ‘despasito.’
”Hei! Diam! Aku tidak suka kau
menyanyikan lagu itu,”
Ia
mendengus, mengerem suaranya, sementara jemari masih memetik senar. Melodi
terangkai, sayup-sayup terdengar sampai seberang jalan, klakson kendaraan
seolah hendak menggantikan tepuk tangan.
“Aku
tahu, suaraku memang buruk!”
“Artinya
vulgar, hati-hati kau!”
“Nanti
malam aku punya ide besar,” ia mengalihkan pembahasan. Gitar masih bersiul.
Jalanan tetap melaju lalu lalang.
Dedi menatapnya sedikit heran. “Ide boleh gila,
namun aku tidak ingin itu dihubungkan dengan kejahatan.”
”Sore
ini ada les komputer di rumahmu?” Selain menghabiskan waktu dengan tongkrong,
Dedi juga membuka les komputer di rumahnya.
“Ini
hari apa?” Dedi balik bertanya.
“Sabtu,”
“Kau
tahu kesimpulannya bukan? Hari minggu saja les komputer libur.”
Pengamen
itu mengembuskan napas sebal. Ia meletakkan gitarnya di bangku, tepat di sisi
tubuhnya. “Aku ingin kau membantuku berpikir mengenai proyek besarku,”
“Apa,
Bang?”
Ia
mendekatkan bibirnya di telinga Dedi, mengucapkan kalimat dengan setengah
berbisik. Penjaga angkringan mengangkat gorengan, meletakkan ke atas nampan,
melirik tingkah mereka berdua, tersenyum sinis, lantas kembali memasukkan
adonan ke dalam wajan.
“Aku ingin mencuri!”
“APA
KAU BILANG?”
Mata
Dedi nyaris lompat, suaranya menjelegar, membuat jantung Pak Angkringan
tersentak, adonan yang dimasukkan ke dalam minyak mendidih menjadi berantakan.
Namun lelaki tua yang hanya mengenakan kaos oblong berlogo partai itu tak mampu
mengumpat pelanggan, diam adalah pilihan yang terbaik.
Pengamen
langsung membekap mulut Dedi. “Atur suaramu,”
“Jika
proyek itu berhasil, aku akan membangun sebuah usaha kecil-kecilan, dagang
keliling mungkin, setidaknya itu bisa membuatku pensiun dari pekerjaanku
menjadi pengamen. Kau sendiri tadi baru bilang, gunakan otak cerdasku! Aku
sudah berpikir hal besar, kau tidak boleh protes, kau hanya perlu menentukan
waktu yang tepat, maka nanti aku akan membicarakannya dengan teman-teman
jalanan.”
Dedi
batuk. Tubuhnya sampai membungkuk menahan sakit. Tangan kirinya meremas
dadanya.
“Sudah
hampir jam lima sore! Aku pulang dulu, anak-anak pasti sudah menungguku!”
“Kau
tidak mau membantuku, Ded?”
“Maaf,
Bang! Kau kuanggap teman yang baik, aku tidak mungkin menjerumuskanmu ke lubang
hitam.”
Dedi
bangkit, meraih dompet dari kantong celana, menyeret satu lembar uang sepuluh
ribuan, lantas meletakkannya di atas meja. “Pak, es teh, dua tempe goreng, sama
sate hati ya? Sisanya boleh disimpan.” Katanya kemudian keluar dari tenda
angkringan. Pengamen jalanan itu bergegas menyeimbangkan langkah dengannya.
“Kumohon!”
ia mengemis di jalan trotoar, memasang wajah melas, mengharap ada yang
membantunya menyiapkan strategi. “Kau pandai bermain game, maka anggap saja ini sebagai arena permainan!”
Dedi
batuk. Wajahnya membiru. Bibirnya kering. Ia berhenti. Jarak rumahnya masih
setengah kilo meter. Ia mengusap keringat dingin yang mengalir di keningnya.
Mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Sejenak menatap kawannya iba. Satu
menit kemudian langkah kembali dijejakkan.
Surya mulai meremang, awan tak lagi mengombak terang, mereka menggulung
lantas berhamburan dengan wajah yang menghitam. Mendung singgah di sore yang
seharusnya diharapkan indah. Perempatan jalan ramai, arus kendaraan dari Timur
sedang berhenti. Mereka melintasi Zebra
cross.
Dedi
kembali batuk.
“Kau
minum es dan sama saja menenggak racun!”
“Anggap
saja aku sedang memakan bunga terompet di halaman rumahmu, jadi aku mabuk.”
“Hei! Jangan bergurau! Tidak ada tanaman
itu di rumahku, rumahku kolong jembatan! Apa kaitannya bunga terompet dengan
dirimu?”
“Ia indah bukan?”
“Ya!”
“Begitupun denganmu,
sebenarnya tujuanmu indah, namun caramu salah. Bunga terompet jika kau makan
akan membuatmu mabuk, atau malah bisa mengangkat ruhmu. Lantas kau akan MATI!
Sama halnya, tujuanmu memang ingin membangun sebuah usaha, ingin keluar dari
pekerjaan mengamenmu yang melelahkan, namun selain kau mendapatkan dosa, jika
tidak berhasil pun kau akan digerebek polisi!”
“Paru-parumu
sakit, kau tidak diizinkan meminum es, namun kau meminumnya! Bukankah itu juga
sama saja sedang bunuh diri dengan cara yang indah?”
“Cerdas
juga kau balik sebuah permasalahan, Bang!”
Mereka
berdua masuk ke dalam rumah, langsung menuju ruang les yang masih hening.
Komputer-komputer dipeluk sepi. Ruangan remang, kursi-kursi masih kosong. Dedi
menyibak tirai jendela, mengizinkan langit sore mengintipnya dari balik kaca.
Ia duduk di depan komputer server.
Menekan tombol on, layar bercahaya.
“Kau
tidak ingin membantuku?” Dedi hanya diam. Mengarahkan mouse, mengklik Mozilla
firefox, kemudian jemarinya menari
di lantai keybord. Ia mengetik
sebuah keyword di mesin pencarian
google. ‘Cara menjadi pencuri sukses’.
“Tapi
kau janji, harus berhasil dan tidak mengamen lagi,”
Pengamen
itu melongo tak percaya. Ia menepuk bahu Dedi, wajah mereka berpandangan penuh
makna setan. Ia meletakkan gitarnya di lantai. Dedi memberi isyarat agar ruang
les komputer ditutup sejenak. Ia menurut, jadi kacung tak bergaji
bertahun-tahun pun bersedia, asalkan untuk Dedi seorang.
“Kau
harus menentukan targetmu, Bang! Bukan hanya itu saja, kau juga harus
mempelajari psikologis mangsamu, cari hari-harinya lengah, jika targetmu adalah
PNS, maka jangan sekali-kali kau mencuri malam minggu, bisa jadi ia sedang
menghabiskan waktu malamnya bersama keluarga, karena hari itu libur, namun bisa
jadi jika kau mencuri siang hari target justru tidak ada di rumah karena sedang
berlibur, sayangnya mata siang banyak yang berkeliaran.” Dedi menguraikan
penjelasan artikel yang dibacanya dari website.
“Jika targetmu petani sukses, jangan berani-berani kau mencuri tengah malam.
Kadang mereka bangun pagi-pagi pukul tiga dini hari untuk mempersiapkan
kebutuhan di ladang, selain juga menata-nata dagangan yang akan didistribusikan
ke pasar-pasar induk. Jika targetmu pengusaha yang kaya raya, maka sebaiknya
kau pelajari dulu situasi mangsamu, jangan lupa pelajari kesibukan lingkungan
sekitar. Kau juga harus mempunyai ilmu fisika dalam mencuri,”
“Maksudmu?”
Pengamen itu memotong.
“Kau
harus paham gejala alam. Sebaiknya mencuri saat mendung atau hujan turun! Tepat
tengah malam, penduduk pasti tidak mendengar teriakan, benturan, atau apa pun
dengan suara yang mengganggu, mereka pastinya akan sibuk memeluk guling atau
tubuh istri masing-masing.”
Ia
menggangguk-angguk paham.
“Dan
jangan lupa, bawa senjata dan kau harus pandai ilmu bela diri.”
Ting, tong! Bel rumah mendapat tekanan.
Dedi bergegas mematikan komputer. Membuka pintu ruang les komputer. Seorang
polisi berdiri tegak di ambang pintu, menuntun gadis kecil yang baru duduk di
kelas lima SD. Pengamen itu menghela napas panjang. Ia sedikit merinding
melihat perawakan polisi yang bertubuh kekar.
“Tidak
libur kan, Ded?”
“Tidak,
Pak!”
“Tumben
jam lima tapi belum ada anak-anak, aku pikir anakku sudah telat,” katanya lagi.
Matanya menelisik ke dalam ruangan, pandangannya sempat bertabrakan dengan
wajah pengamen yang pucat pasi. Polisi itu mengulum senyum sinis.
“Mungkin
karena pintu saya tutup, dan tidak ada orang juga di ruang tamu.”
****
Pengamen
itu_ ya kau hanya perlu mengingat profesinya di
jalanan. Takdir tak mengizinkan kau mengetahui namanya, atau semua hidupnya
akan hancur. Ia mempraktikkan saran Dedi.
Selama dua minggu penuh mengamati kehidupan
mangsa. Ia menyuruh teman seperjuangan hidup di jalanannya untuk mengintai
kondisi rumah. Siang dan tengah malam mereka mempelajari keadaan. Hingga hari
yang tepat itu datang.
Guntur sedang menyambar langit, kilat cahaya
berserakan seperti akar serabut. Angin mendoyongkan pepohonan. Tiang-tiang
listrik seolah hendak dirobohkan. Air-air di selokan muntah sampai trotoar.
Angkringan gulung tenda. Jalanan sepi. Pukul dua dini hari, penduduk telah
meringkuk menjemput mimpi. Pos ronda bahkan kosong melompong, tugasnya dilempar
pada burung hantu yang menggigil kedinginan dari balik persembunyiannya. Malam
mencekam. Pengamen itu mencongkel jendela rumah. Sekujur tubuhnya basah, ia
tidak menutupi wajahnya sebagaimana maling-maling pada umumnya. Dua teman
mengintai di halaman rumah, berjaga-jaga barangkali ada makhluk malam yang
melintas dan menangkap aksinya. Dua menit lalu, ia lompat dari gerbang rumah,
langsung menuju jendela kamar pemilik rumah. Ia membobol rumah seorang bidan
yang terkenal sangat kaya raya.
Pengamen
itu lompat ke dalam. Pencahayaan kamar temaram. Dua orang sedang berpelukan di
atas ranjang. Selimut membungkus sampai punggung mereka. Pemilik rumah tampak
lelap dengan nikmat. Ilmu fisika mencuri sepertinya tepat. Ia bergegas mencari
laci di bawah meja rias, membuka satu persatu. Memilah-milah kotak dan
berkas-berkas, barangkali ada intan yang disimpan di dalam kotak-kotak itu, dan
memang begitu adanya. Ia memasukkan kotak perhiasan ke dalam kantong jaketnya.
Gerak tangannya bergegas cepat. Ia tidak perlu harta melimpah, cukup untuk
modal usahanya.
Kembali ia tutup laci-laci. Berdiri siap-siap
keluar, lompat dari jendela. Nas!
Pemilik rumah terbangun. Cepat meraih tubuh pengamen tersebut. Menyeret kakinya
yang sedang bersiap-siap keluar. Tubuhnya pun terjerembab, wajahnya membentur
kaca jendela. Pecah! Darah mengalir. Istri bangun, menekan tombol lampu.
Ruangan temaram menjadi terang. Di luar hujan
masih melambai-lambai. Guntur bersahut-sahutan. Angin
memporak-porandakan pepohonan. Kabel-kabel terpelanting menahan keseimbangan di
udara. Dua temannya masih sigap berjaga. Mendadak wajah mereka pias, usai
mendengar suara benturan kaca.
“Maliiinnnggg!!!”
Bidan itu berteriak lantang.
Suami
bidan mencengkeram leher pengamen. “Kau mau cari mati?”
Dan….
Rasa sakit di kepalanya melayang. Gigilnya sebab pakaian yang basahnya hilang.
Perasaannya mendadak panas. Masalah akan membengkak jika Dedi sampai tahu.
Wajah
mereka bertautan, pengamen itu! Ah, ia salah sasaran. Tidak pernah ia sadari
jika bidan itu rupanya istri dari polisi yang anaknya les komputer di rumah
Dedi. Ia tak bersuara, bergegas meninju perut polisi sekeras-kerasnya lantas
kabur. Lompat dari jendela.
“Hei, maling!”
Tidak
ada satpam di rumah besar itu.
“MALING!”
Penjaga ronda sedang cuti. Hujan deras. Siapa yang mendengar? Hendak mengejar,
dirinya tak punya kekuatan, perutnya perih sampai uluh hati. Tiga maling
berhasil meloloskan diri.
Bidan
itu menangis ketakutan kemudian memapah suaminya ke ranjang.
“Kita
laporkan ke teman-temanmu, Mas.”
“Tidak
usah, Bu. Aku mengenal orang itu.”
****
Petikan
senar gitar meramaikan siang yang terang. Suara sumbang yang juga serak karena
masuk angin pun ikut menjadi pengantar melodi abal-abalan. Dedi melahab nasi
kucing. Pengamen itu sibuk memainkan senar gitar. Keningnya diperban, ada
bercak merah di pusar.
“Aku
sudah mencuri sabtu malam kemarin,”petikan gitar berhenti.
“Lantas?
Sepertinya ada hal yang buruk,” Dedi melirik luka di keningnya.
“Bukan
hanya buruk, melainkan malapetaka besar,”
“Kenapa?”
tanya Dedi dengan ekspresi datar. Ia santai, melahap nasinya tanpa sendok.
“Aku
tidak tahu jika rumah yang kucuri itu rumahnya polisi yang minggu lalu
mengantarkan anaknya les di rumahmu,” Dedi tersedak. Ia langsung menenggak
tehnya habis.
“KAU
TIDAK BERCANDA?”
“Serius!”
Penjaga angkringan ikut
mendengar obrolan mereka. “Aku kurang jeli memerhatikan mangsa,”
“Tapi
kau berhasil mencuri dan tidak ketahuan kan?”
“Aku
dan dia saling bertatapan! Polisi itu mengenaliku, sebab di ruang les pun kami
bertatapan.”
“Ya
Tuhan!”
“Hanya
saja ilmu fisika darimu tepat, beruntung malam tadi hujan lebat. Cuaca negara
kita yang sedang kacau ini menolongku, kadang siang panas dasyat, kadang malam
hujan lebat! Dan hujan turun sabtu malam tadi,”
“Masalah
ini akan menjadi panjang, kau akan menjadi buronon, bahkan bisa jadi aku ikut
terseret ke dalamnya, Bang!”
“Maafkan
aku yang kurang cerdas, Ded!”
“AKU
HAPAL JIKA SIANG SEPERTI INI KAU DAN PENGAMEN ITU AKAN TONGKRONG DI ANGKRINGAN
INI, DED!” Pak Polisi menyembul dari balik tenda. Gitar jatuh terkulai.
Pengamen terkesiap, ia bergegas mengambil langkah untuk lari. Dedi ikut serta
panik, ia pun lompat, langkahnya terbirit-birit di trotoar.
“Kabur!
Kabur, Bang!” Serunya.
“DEDI!
Aku ingin bicara denganmu! Berhenti atau aku tembak?”
Dedi
acuh. Anehnya polisi itu tidak mengejar, hanya berdiam diri, mematung di
tempat, membiarkan dua orang itu lolos. Ancamannya hanya omong kosong belaka.
“Lari
keluar kota, ajak teman-temanmu juga! Jangan temui aku dulu.” Dedi memberi
saran. Pengamen itu sudah melompat ke bus yang berjalan menuju terminal. Dedi
lari mengimbangi laju kendaraan beroda empat tersebut. “Hubungi kontakku saja
jika ada apa-apa!” teriaknya lagi.
“JAGA
DIRIMU BAIK-BAIK. MAAFKAN AKU, DAN JANGAN MINUM ES LAGI!”
Dedi terbatuk sementara
tangannya melambai. Ia kemudian membungkukkan badan mengatur pernapasan. Bus
telah menghilang. Dadanya sesak, ia bergegas pulang mengambil sepeda motor,
berjalan menuju rumah sakit, hendak kontrol kesehatan paru-parunya.
“Kau
harus dirawat.” Kalimat dokter membekas di otaknya. Sayang, ia memaksa pulang,
pikirannya secepatnya ingin pergi jauh dari kota kelahiran, meninggalkan les
komputer yang sudah berdiri lima tahun. Ia tidak ingin bertemu dengan polisi
itu lagi. Tubuhnya ringkih. Debu jalanan membuatnya bertambah batuk. Sialnya,
sebelum tiba di rumah, mobil patroli polisi mengejar di belakangnya.
Pandangannya berkunang-kunang. Tenaganya lunglai. Rasanya ia akan pingsan. Tragis
yang menyetir mobil itu adalah polisi yang dikenalnya, ayah dari gadis kecil
yang ia lesi komputer. Takdir sepertinya sedang mengajaknya bergurau. Ia hendak
menarik gas lebih kencang, sayang kefokusannya hilang.
“Berhenti,
Ded!”
Polisi
itu mengklaksonnya.
Ia
tidak berhenti. Polisi itu geram, mengklakson lebih kencang. Menyalip laju
motornya. Berhenti di tengah-tengah jalan, menimbulkan kemacetan dan perhatian
pengendara kendaraan.
Dedi
tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah, pikiran tidak kacau, justru linglung
sebab kelelahan, ia seharusnya sudah terkapar dengan jarum infus di kamar rumah
sakit.
“Anda
mau apakan diri saya, Pak? Saya menyerah!” Ia pasrah. Polisi itu tersenyum
sinis. Polisi yang lain terheran-heran.
“Surat-surat
kendaraanmu tidak lengkap?” Ucap seorang polisi yang duduk di belakang. Ia
turun.
“Lengkap.”
“Kau
tampak ketakutan?”
“Uangmu
berhamburan di jalan raya, Ded! Balik, ambil! Tadi dikumpulkan bapak-bapak
tukang sapu jalan. Setelah itu buka ponselmu.” Kata polisi yang sangat
mengenalnya. Polisi yang sempat mengancamnya tiga jam yang lalu. Setengah jam
lalu ia memasukkan uang sisa menebus obatnya ke dalam jaket. Tidak sempat
memasukkan ke dalam dompet sebab tergesa-gesa.
Dedi
diam. Ia bingung.
“Bergegas
pulang dan istirahatlah. Kau tampak pucat, aku tidak akan membiarkanmu sakit
sehingga les komputermu ditutup, Ded.”
Polisi
itu melambaikan tangan, kawannya yang turun naik kembali ke atas mobil patroli.
Kendaraan kembali melaju dengan lancar. Ia bergeming di sisi jalan. Dalam
hatinya ia bertanya-tanya, ‘mengapa ia
tidak ditangkap? Mengapa temannya juga tidak diburu?’
Ia
meraih ponsel di saku jaketnya. Membaca pesan yang masuk. “Jangan khawatir,
Ded! Aku yakin kau orang baik. Pikiranmu cerdas, tidak mungkin kau menolong
pengamen itu jika bukan karena otak brilianmu. Kau peduli dengan
kehidupan-kehidupan orang di bawahmu, maka teruslah arahkan mereka agar menjadi
baik. Harta yang dicuri, gunakanlah untuk usaha, aku ikhlas. Lain kali jangan
ulangi kesalahan yang sama.”
Dedi.
Pemuda yang mengindap penyakit kanker paru-paru itu masih bingung, tidak
percaya.
Magelang,
30 Agustus 2017.
Komentar
Posting Komentar